Prediksi HK — Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto, memaparkan skala besar operasi militer dalam penanganan bencana hidrometeorologi di Pulau Sumatra. Paparan yang disampaikan dalam sidang kabinet di Istana Kepresidenan, Senin (15/12/2025), menyoroti upaya utama memulihkan konektivitas darat yang terputus.
Salah satu fokus krusial adalah percepatan pembangunan jembatan bailey Sumatra. Saat ini, sebanyak 50 set jembatan bailey sedang dalam proses pengerjaan, dengan beberapa di antaranya telah terpasang di titik-titik vital yang terdampak bencana.
“Kami tengah memproses 50 set jembatan bailey, dan sebagian sudah dapat digunakan,” jelas Jenderal Agus dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto.
Untuk mendukung percepatan ini, TNI baru saja menurunkan empat batalion tambahan, yang terdiri dari tiga batalion Zeni dan satu batalion Teritorial Pembangunan. Pasukan ini akan fokus pada pemasangan jembatan, pembersihan material lumpur dan kayu, serta membantu pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap).
Mobilisasi Personel dan Alutsista Secara Masif
Total personel TNI yang telah dikerahkan ke wilayah bencana mencapai 35.477 orang. Rinciannya terdiri dari 28.319 personel TNI AD (termasuk kru dan helikopter), 4.589 personel TNI AL (termasuk kru KRI), dan 2.569 personel TNI AU (termasuk kru pesawat). Selain itu, Satgas Kesehatan TNI yang berjumlah 321 orang juga telah tersebar di beberapa lokasi terdampak.
Dukungan alat utama sistem persenjataan (alutsista) juga dikerahkan secara signifikan, dengan total 82 unit. Kekuatan udara meliputi 26 unit pesawat, termasuk pesawat A400 terbaru, Hercules, CN295, Casa 212, serta pesawat dari BNPB. Untuk mobilitas vertikal, 36 unit helikopter berbagai jenis seperti Caracal, Super Puma, dan Bell 412 juga dioperasikan. Di laut, 20 unit Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) turut mendukung distribusi logistik.
Operasi Logistik dan Dukungan Non-Tempur
TNI juga aktif dalam operasi logistik udara. Di wilayah Blangkejeren, misalnya, pesawat Hercules melakukan airdrop 36 bundel logistik dengan total berat 5.760 kilogram. Pesawat Casa juga mendistribusikan 100 heli box dengan berat total 500 kilogram. Wilayah lain seperti Rembele juga masih memerlukan penyaluran bantuan melalui metode airdrop dan air landed.
Di sektor non-alutsista, TNI menggelar 638 unit peralatan pendukung. Sebanyak 53 unit di antaranya adalah alat berat seperti ekskavator dan dozer. Selain itu, telah beroperasi 36 unit dapur lapangan, armada pemadam kebakaran, dan unit pengolahan air bersih (water treatment) untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi.
Operasi besar-besaran ini menunjukkan komitmen TNI dalam fase tanggap darurat yang tidak hanya fokus pada evakuasi, tetapi juga pada pemulihan infrastruktur kritis dan dukungan logistik berkelanjutan untuk masyarakat terdampak bencana di Sumatra.