EPICTOTO — Derasnya air dan lumpur yang menerjang Kabupaten Tapanuli Tengah pada akhir November 2025 meninggalkan cerita getir bagi warga yang selamat. Salah satunya adalah Mardiani (58), yang bersama suami dan dua anaknya harus bertahan hidup di atas atap rumah mereka selama tiga hari dua malam.
Kisah itu ia ceritakan dari tempat pengungsian di Gedung Serba Guna, Kecamatan Pandan, pada Jumat (5/12/2025). Mardiani mengungkapkan, mereka naik ke atap rumah berbahan seng setelah arus banjir yang datang dini hari mengunci seluruh pintu keluar.
“Kami terpaksa naik karena air dan lumpur sudah memenuhi rumah. Pintu tidak bisa dibuka,” kenangnya.
Terjebak di Tengah Air dan Lumpur
Rumah Mardiani di Jalan Faisal Tanjung, Kelurahan Pasar Baru, bukanlah asing dengan genangan. Namun, kali ini berbeda. Aliran air yang luar biasa deras membawa serta material lumpur yang terus menimbun halaman dan sekeliling rumah.
“Daerah kami biasa banjir, tapi yang ini lain. Arusnya sangat kuat dan lumpurnya banyak,” ujarnya.
Nasib baik masih menyertai. Saat pintu tak bisa dibuka, mereka masih menyimpan anak tangga di bagian dalam rumah. Dengan memanjat tangga dan membuka paksa bagian seng atap, keluarga itu akhirnya bisa mencapai tempat yang lebih aman.
Solidaritas di Atas Atap
Dari ketinggian, Mardiani menyaksikan pemandangan yang sama di sekitar rumahnya. Banyak tetangga yang juga terpaksa menyelamatkan diri ke atap-atap rumah, menunggu arus banjir mereda karena khawatir terseret arus.
“Di situ terlihat beberapa keluarga melakukan hal yang sama. Kami saling melihat, mungkin sama-sama berharap air cepat surut,” cerita Mardiani.
Penyelamatan Diri Usai Tiga Hari
Setelah tiga hari bertahan dengan persediaan seadanya, Mardiani dan keluarganya memutuskan turun sendiri setelah air mulai surut. Meski air berkurang, lumpur yang menumpuk hampir setinggi atap menjadi rintangan baru.
Tanpa menunggu bantuan, mereka berjuang keluar dari tumpukan lumpur dan berjalan kaki beberapa kilometer menuju Gedung Serba Guna Pandan, yang kini menjadi tempat tinggal sementara mereka.
“Kami turun dan berjalan sendiri. Tidak ada yang membantu. Syukurlah, yang hilang hanya barang-barang, nyawa keluarga kami semua selamat,” pungkas Mardiani lega.
Kisahnya menjadi potret nyata ketangguhan warga terdampak banjir Tapanuli Tengah, sekaligus mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan dan sistem evakuasi yang lebih baik di daerah rawan bencana.